-->

Media Informasi Warga Banda Aceh

Kantor Berita Peristiwa

Penonton Final Sepak Bola Putra PAPUA VS ACEH Membludak


Pertandingan final sepak bola putra yang mempertemukan Papua vs Aceh membuat penonton yang menghadiri staidon membludak untuk menyaksikan pertandingan final.

Dari video yang beredar terlihat penonton yang menyaksikan pertandingan bukan hanya saja memenuhi tribun tetapi juga memenuhi lereng yang ada di seputaran tribun tanpa mengikuti protokol kesehatan.

Pertandingan final yang dimenangkan oleh Papua tersebut kembali menjadi momen yang sama dimana Aceh selalu kalah di final PON saat berhadapan dengan Papua dengan hasil 2-0.

Sebanyak 78.723 Orang Dilaporkan Telah Divaksin Covid-19

BANDA ACEH – Sebanyak 78.723 orang masyarakat Aceh dilaporkan telah disuntik vaksin Covid-19, dalam gelaran vaksinasi massal Pemerintah Aceh, di Banda Aceh Convention Hall (BACH).

Ketua Bidang Komunikasi Publik Satgas Covid-19 Aceh, Muhammad Iswanto, mengatakan, Rabu (13/10/2021) hari ini merupakan pelaksanaan hari ke 82 vaksinasi tahap kedua.

Banda Aceh dan Aceh Besar Sambut Baik Sosialisasi Vaksinasi Santri

“Alhamdulillah mereka yang ikut vaksinasi covid-19 terus bertambah. Hari ini ada penambahan 212 orang, dan secara total sampai hari ini telah 78.723 orang yang disuntik vaksin,” kata Iswanto dalam keterangannya di Banda Aceh.

Iswanto mengatakan, para vaksinator bekerja ekstra, untuk melaksanakan vaksinasi Covid-19 bagi masyarakat Aceh. “Penghargaan terbesar layak diberikan atas dedikasi mereka yang juga pahlawan kemanusiaan dalam menanggulangi Covid ini,” kata Iswanto.

Pada hari ke-82 vaksinasi massal yang digelar di Banda Aceh Convention Hall ini, sebanyak 212 orang dilaporkan disuntik vaksin covid-19.

Koordinator vaksinasi massal Pemerintah Aceh yang juga Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Aceh, dr. Iman Murahman, merinci, sebanyak 124 disuntik vaksin dosis 1, dan 88 disuntik vaksin dosis 2, pada gelaran vaksinasi massal Covid-19 hari ini.

Lebih lanjut, dr. Iman menambahkan, sebanyak 71.280 orang yang disuntik pada vaksinasi massal tahap kedua. Sisanya merupakan mereka yang disuntik pada tahap pertama.

Dr. Iman menyebutkan, pelaksanaan vaksinasi tersebut didukung penuh oleh para vaksinator dari RSUDZA, Rumah Sakit Ibu dan Anak, Rumah Sakit Jiwa Aceh, Rumah Sakit Kesdam Iskandar Muda dan Rumah Sakit Bhayangkara Polda Aceh.

Atas nama Satgas Covid-19 Aceh, dr. Iman mengapresiasi para vaksinator dan seluruh Satgas Kabupaten/Kota atas semua usaha vaksinasi yang terus berjalan. “Usaha bersama vaksinasi ini bagian dari ikhtiar kita melawan dan memutuskan mata rantai Covid-19 di Aceh,” kata dr. Iman.


Ini Penyebab 1.819 Dosis Vaksin Tak Bisa Digunakan di Aceh Tenggara

Kadis ESDM: Perlu Dukungan Masyarakat untuk Pengelolaan Migas di Aceh

Banda Aceh – Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh, Mahdinur, Sabtu (02/10/2021) mengatakan, dalam mengembangkan potensi migas yang dimiliki Aceh, selain dibutuhkan pengelolaan secara optimal oleh pemerintah, dukungan dari seluruh kalangan terhadap pengelolaan migas juga sangat dibutuhkan. Sehingga peningkatan pendapatan daerah dalam rangka mensejahterakan masyarakat semakin dirasakan dan dapat berjalan lancar.

Hal itu ia sampaikan, dalam web seminar yang mengusung tema “Apa Manfaat BPMA Untuk Masyarakat Aceh” yang digelar oleh Forum Peduli Rakyat Miskin (FPRM), Sabtu hari ini. “Saya rasa tanpa dukungan dari masyarakat akan sulit kita jalankan. Pengelolaan migas harus bisa memberikan manfaat bagi negara, daerah serta akan membawa manfaat bagi masyarakat,” ujar Mahdinur.

Ia menuturkan, pengelolaan potensi migas adalah hasil perdamaian Aceh yang melahirkan UU nomor 11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. Dimana dalam pasal 160 ayat 1 dan 2 tercantum bahwa Pemerintah Pusat dan Pemerintah Aceh mengelola bersama sumber daya alam minyak dan gas bumi, yang berada di darat dan laut pada wilayah kewenangan Aceh dengan membentuk suatu badan pelaksana yang ditetapkan bersama.

Menindak lanjuti hal itu, Gubernur Aceh mengeluarkan SK No. 542/323/2013, sehingga melahirnya Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA). Pendirian BPMA ini dibutuhkan guna mendorong keikutsertaan Pemerintah Aceh dalam pengelolaan migas supaya memberikan manfaat yang lebih besar untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat Aceh. “Tugas BPMA sendiri telah dicantumkan dalam UU nomor 11 tahun 2006 dan PP nomor 23 tahun 2015 yang menjelaskan bahwa, tugas utama BPMA adalah melakukan pengendalian dan pengawasan terhadap kontrak kerja sama kegiatan usaha hulu, agar dapat memberikan manfaat dan penerimaan yang maksimal bagi negara untuk kemakmuran rakyat,” jelas Mahdi.

Di kesempatan itu, ia menyebutkan, BPMA sebagai badan yang berkontribusi dalam pengelolaan migas dan peningkatan pendapatan Aceh mempunyai peranan penting, mulai dari mendukung dan meningkatkan pembinaan terhadap alih kelola Blok B yang sudah diperoleh, dan melakukan pengawasan yang ketat untuk peningkatan produksi dan pembukaan lapangan baru.

Kemudian, BPMA juga menjadi fasilitator dan pendukung Badan Usaha Milik Aceh (BUMA) untuk memperoleh Partisipasi Interes (PI) yang maksimal, serta mendukung rencana BUMA untuk memperluas usahanya pada sektor Migas seperti pembangunan tangki kondensat pada KEK Arun.

Hal itu, kata Mahdi, sejalan dengan langkah dan upaya yang dilakukan Pemerintah Aceh dalam upaya meningkatkan pendapatan Aceh yaitu, mengambil alih pengelolaan potensi minyak dan gas bumi Blok B, meningkatkan produksi dan pembukaan lapangan baru, Partisipasi Interes pada Kontraktor Kontrak Kerja Sama (K3S) Produksi, dan meningkatkan peran BUMA dalam rangka meningkatkan kontribusi pendapatan Aceh.

Mahdi menyebutkan, saat ini terdapat 12 wilayah kerja migas aktif yang ada di Aceh, dimana 9 wilayah diantaranya menjadi kewenangan Pemerintah Aceh melalui BPMA berupa area yang berada di daratan dan di bawah 12 mil laut, sedangkan 3 wilayah lainnya menjadi kewenangan SKK Migas berupa area yang berada di atas 12 mil laut.

Dari 9 wilayah yang menjadi kewenangan BPMA, kata Mahdi, masih ada 1 wilayah yang sedang dalam proses alih kewenangan dari SKK Migas ke BPMA yaitu WK Pertamina Aset 1 (PT. Pertamina EP Rantau).

Mahdi mengungkapkan, terkait pendapatan pengelolaan migas Aceh sejak tahun 2017 hingga tahun 2020 masih sangat fluktuatif. Di tahun 2017, total Dana Bagi Hasil (DBH) dan Tambahan Dana Bagi Hasil (TDBH) migas Aceh masih rendah yaitu sebesar 213 miliar per tahun. Rendahnya pendapatan DBH dan TDBH dikarenakan terjadinya penurunan produksi atau lifting secara alamiah karena produksi migas masih diharapkan pada lapangan-lapangan dan sumur-sumur lama yang ada di Aceh.

Kemudian, pada tahun 2018, terjadi peningkatan pendapatan DBH dan TDBH Aceh menjadi Rp 353 miliar per tahun. Hal ini dikarenakan kurang pembayaran di tahun-tahun sebelumnya yang dibayarkan di tahun 2018 dan juga disebabkan PT. Pertamina Hulu Energi NSB berada pada masa akhir kontrak, sehingga mereka meningkatkan produksi secara maksimal pada Blok B.

Seterusnya di tahun 2019, pendapatan Aceh masih tinggi yaitu sebesar 333 miliar per tahun, dikarenakan pada tahun itu PT. Medco E&P Malaka sudah mulai berproduksi sehingga menambah produksi dan pendapatan migas Aceh, dan pada tahun 2020 yang lalu terjadi penurunan secara alamiah menjadi 194 miliar per tahun.

Mahdi berharap, agar ada kesamaan persepsi serta kolaborasi dari semua kalangan, agar saling memahami peran dan tugas masing-masing sehingga, tidak menimbulkan kesalahpahaman di kemudian hari.”Kalau belum 1 persepsi maka akan sulit kita jalankan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Divisi Formalitas dan Hubungan Eksternal BPMA, Adi Yusfan, juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk dapat mendukung pemerintah Aceh, agar dapat memberikan yang terbaik dalam pengelolaan migas di Aceh l. “Ayo sama-sama kita bangkitkan Aceh, dengan mengatasi tantangan yang ada sehingga industri migas di Aceh kembali berjaya seperti masa Arun dahulu,” ujarnya.(peristiwa.co)

KKP Panggil Pertamina Bahas Penanganan Tumpahan Minyak di Aceh

Kabid Humas Polda Aceh : Vaksinator sudah Sesuai SOP, Siswi Khana Darasa Naswa Hanya Syok

BANDA ACEH – Kabid Humas Polda Aceh Kombes Pol. Winardy, S.H., S.I.K., M.Si., menyatakan, pihaknya melalui Polres Lhokseumawe sudah melihat langsung kondisi terkini dari Siswi Khana Darasa Naswa (16), yang tumbang setelah menerima vaksin Covid-19 di SMK N 1 Lhokseumawe.

Berdasarkan keterangan dokter, kata Winardy, kondisi terakhir Siswi Khana Darasa Naswa baik-baik saja, namun masih perlu waktu untuk istirahat. Yang bersangkutan diketahui hanya merasa syok/ takut (Sikosomatik).

Pemerintah Aceh Ajak Kepala Sekolah SMA Se-Kota Banda Aceh Tuntaskan Vaksinasi Siswa

Menurutnya, terkait kejadian tersebut, ada beberapa fakta yang tidak bisa kita nafikan, sehingga tidak menimbulkan keresahan di tengah masyarakat untuk menerima vaksin.

Winardy menjelaskan, sebelum divaksin Khana Darasa Naswa sudah terlebih dahulu dilakukan skrining dan tensi, yang hasilnya normal-normal saja.

Hal tersebut merupakan mekanisme yang tetap dilakukan oleh vaksinator kepada semua orang yang akan divaksin.

Kemudian setelah menerima vaksin, Siswi Khana Darasa Naswa juga diobservasi selama 30-40 menit, untuk mengetahui efek yang ditimbulkan. Namun saat itu, yang bersangkutan baik-baik saja.

“Saat di skrining, yang bersangkutan sudah ditanyakan oleh petugas tentang kondisi dan riwayat penyakit. Kemudian setelah vaksin juga ada dilakukan observasi. Saya rasa, vaksinator sudah bekerja sesuai dengan SOP,” sebut Winardy, dalam keterangannya, Jumat (24/9/2021).

Ia juga menyampaikan, untuk vaksin yang akan diberikan kepada masyarakat sudah lebih dulu dicek oleh BPOM, sehingga dari vaksin itu sendiri tidak ada masalah. Namun secara umum, efek samping itu tetap ada seperti nyeri di titik bekas suntikan, sakit kepala, kelelahan, dan sedikit nyeri otot.

“Efek samping saya rasa tetap ada. Dan itu umum ditimbulkan oleh semua vaksin,” ucapnya.

Oleh karena itu, Winardy berharap, pemberitaan-pemberitaan terkait dengan kejadian tersebut jangan dibesar-besarkan, apalagi ditambah-tambah dengan fakta yang tidak berdasar.

Mewakili institusi, Winardy ikut prihatin atas kejadian yang menimpa Siswi Khana Darasa Naswa. Semoga di balik semua ini ada hikmah yang bisa kita petik.

“Kami berdoa, semoga Adinda Khana Darasa Naswa cepat sembuh, sehingga dapat kembali belajar seperti semula,” tutupnya.

Wali Kelas Kunci Sukses Cakupan Vaksinasi Siswa

Gubernur Nova Hadiri Serbuan Vaksinasi Massal dan Baksos Nusantara Akabri 98

BANDA ACEH – Gubernur Aceh, Nova Iriansyah bersama Kapolda Aceh Irjen Pol Ahmad Haydar dan Pangdam IM Mayjen TNI Achmad Marzuki, menghadiri dan meninjau kegiatan Serbuan Vaksinasi Massal dan Bhakti Sosial Nusantara Akabri 98 Nawahasta, di Mata Ie Aceh Besar, Selasa (21/09/2021). Gubernur yang didampingi alumni Akabri 98, Kepala BPBA Ilyas dan Bupati Aceh Besar Mawardi Ali, juga melakukan video konferensi dengan Kapolri dan Panglima TNI.

Gubernur Aceh Nova Iriansyah, mengatakan, kebijakan pengendalian Covid-19 dilakukan secara serentak oleh semua stakeholder. “Kita tidak bisa melakukan sendiri. Seusai petunjuk Kapolri dan Panglima TNI, soliditas dan sinergitas harus tetap terjaga. Ini penting, untuk senantiasa bersama melawan Covid,” tutur Nova.

Sekda Minta Tenaga Kependidikan Dukung Percepat Vaksinasi Siswa Sebelum 30 September

Lebih jauh Nova menambahkan, jika vaksinasi Covid-19 adalah kunci agar angka kasus positif bisa diturunkan maka yang saat ini harus dilakukan adalah langkah percepatan.

Senada dengan Gubernur, Kapolda Aceh, Irjen Pol Ahmad Haydar menyebutkan, pihaknya juga melakukan berbagai langkah percepatan vaksinasi Covid-19. Di antaranya adalah menerapkan strategi vaksin go to school, kampus, dayah dan ke gampong-gampong. Mereka juga memasang baliho ajakan dari ulama dan berharap masyarakat berbondong-bondong datang ke gerai vaksinasi.

Sementara Pangdam Iskandar Muda, Mayjen TNI Achmad Marzuki, meminta dukungan media untuk mengampanyekan pentingnya vaksinasi Covid-19. “Selama ini hampir 70 persen angka kematian akibat Covid adalah mereka yang berusia di atas 50 tahun. Untuk itu juga perlu langkah percepatan vaksinasi bagi lansia di Aceh yang saat ini realisasinya masih sangat rendah. Kerja keras dan strategi yang kita terapkan tentu tak akan tercapai tanpa bantuan media,” kata Mayjen Achmad Marzuki.

Sebelum itu, Kapolri Jenderal Listio Sigit Prabowo, mengatakan, akselerasi dari vaksinasi memang menjadi salah satu program prioritas dalam pengendalian laju Covid-19. “Apresiasi terhadap Akabri 98 yang telah peduli untuk bergabung mendorong percepatan vaksinasi ini,” kata dia.

Semua pihak, kata Kapolri, terus bekerja keras meningkatkan laju pengendalian Covid-19. Ia bersyukur sampai hari ini angka laju jangkitan Covid secara perlahan sudah bisa dikendalikan. Kasus harian Senin kemarin berada di angka 1.900. Angka tersebut turun drastis setelah pada pertengahan Juli lalu, angka positif harian mencapai 56 ribu kasus. “Untuk BOR (Bed Occupancy Rate) juga terus mengalami penurunan. Pertengahan Juni hampir semua tempat tidur di rumah sakit penuh. Sekarang seluruh Indonesia hanya sekitar 11 persen,” kata Sigit seraya menambahkan, semua itu, adalah hasil kerja keras dari semua pihak yang telah melakukan seluruh rangkaian kegiatan sampai dengan percepatan vaksinasi.

Sementara itu, Panglima TNI, Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, memberikan apresiasi atas terselenggaranya serbuan vaksinasi dan bakti sosial almamater Akabri angkatan 98 tersebut. “Saya ingin ingatkan, mari semua bekerja keras menghadapi cobaan ini dengan terus memperkuat sinergitas TNI-Polri,” tegas Panglima TNI.

Marsekal Hadi yakin, dengan sinergi bersama, maka pandemi segera berakhir. Dengan sinergi pula, maka stabilitas keamanan yang menjadi tugas TNI dan Polri akan terjamin.

Salah satu Alumni Akabri 98 yang bertugas di Polda Aceh, Kombes Pol. Winardy, mengatakan kegiatan Serbuan Vaksinasi Massal dan Bakti Sosial Nusantara Akabri 98 Nawahasta di Aceh, dilaksanakan pada lima lokasi.

Kabid Humas Polda Aceh itu mengatakan jika pihaknya kini menerapkan beberapa strategi percepatan vaksinasi tersebut. Di antaranya adalah vaksinasi tamoeng gampong, vaksinasi go to school, kampus dan dayah. Pihaknya juga merekrut sukarelawan Nakes untuk membantu pemerintah mempercepat vaksinasi.

Gubernur Nova Laporkan ke Presiden Tentang Upaya Penanganan Covid-19 di Aceh

Kepala Sekolah yang Tidak Laksanakan Vaksinasi Siswa Dipersilahkan Mengundurkan Diri

 Gayo Lues - Aceh Alhudri mengultimatum kepala sekolah SMA/SMK dan SLB agar menyegerakan melakukan vaksinasi siswa hingga batas terakhir 30 September 2021.
Apabila hingga batas waktu tersebut vaksinasi tidak mampu disukseskan, maka ia mempersilahkan kepala sekolah tersebut untuk mengundurkan diri.

“Ini saya tegaskan kepada kepala sekolah SMA, SMK dan SLB, jika tidak mampu maka saya persilahkan mundur saja,” kata Alhudri di hadapan kepala sekolah SMA/SMK dan SLB saat mendampingi Sekda Aceh, dr. Taqwallah, M.Kes di SMKN 2 Blang Kejeren, Kabupaten Gayo Lues. Minggu, (19/9/2021).

SMA Negeri 15 Adidarma Gelar Vaksinasi Untuk Siswa

Alhudri menuturkan, persoalan vaksin adalah persoalan serius bahkan Presiden Joko Widodo turun ke Aceh secara khusus hanya untuk meninjau pelaksanaan vaksinasi di Aceh.
Oleh karena itu, dia menekankan kepada kepala sekolah terutama wali kelas untuk melakukan berbagai upaya agar para siswa mau divaksin, kecuali bagi mereka yang memang tidak diizinkan secara medis.

Alhudri menuturkan, saat berkunjung ke daerah dirinya sering ditanya oleh wali siswa bahkan oleh siswa sendiri mengenai kapan sekolah tatap muka akan dibuka kembali.
Namun, jika vaksin ini belum dilakukan secara merata para siswa maka sekolah tatap muka belum bisa dimulai.

“Karena kuncinya selain pakai masker, jaga jarak, adalah vaksin. Jika vaksinasi belum merata maka sekolah tatap muka secara normal seperti sedia kala akan sudah dilakukan. Dulu belum bisa karena vaksinnya tidak ada, sementara saat ini sudah ada vaksin.” kata Alhudri.

Mantan kepala Dinas Sosial Aceh ini mengatakan, saat ini dampak dari pandemi Covid-19 ini sangat memukul perekonomian, jangankan di Indonesia di tingkat dunia pun ekonomi terpuruk.

“Begitu juga halnya kita di Aceh, jam 10 malam harus tutup sementara setiap orang butuh uang untuk hidup.”

Oleh karena itu, Alhudri mengajak semua pihak untuk mempercepat vaksinasi siswa, setelah itu akan dilakukan vaksinasi untuk masyarakat umum.

“Tolong Pak Kadisdik (kabupaten) mari kita saling bahu- membahu untuk menyukseskan vaksinasi siswa,” kata Alhudri.

Sementara itu Sekda Aceh, dr. Taqwallah M.Kes dalam setiap pertemuan mengajak semua pihak terutama kepala sekolah, dan wali kelas agar mempercepat vaksinasi terhadap siswa usia sekolah.

Sekda Aceh meminta agar wali kelas melakukan pendekatan pada muridnya, sehingga tidak ada penolakan untuk divaksin.

Taqwalah mengingatkan bahwa upaya pencegahan Covid-19 membutuhkan kerja-kerja bersama lintas sektor. Oleh karena itu, sikap pro aktif dan koordinasi yang baik menjadi kunci sukses pelaksanaan vaksinasi siswa.

“Fokus Satgas Penanganan Covid-19 Aceh saat ini adalah vaksinasi siswa. Mari kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya fokus dari teman-teman tenaga kesehatan, TNI dan Polri ini untuk mengejar capaian vaksinasi agar kekebalan kelompok segera terbentuk,” ujar Sekda.

Taqwallah juga mengimbau pihak sekolah untuk menjelaskan, jika ada ada orangtua yang ragu-ragu untuk ikut vaksinasi. Karena terpengaruh dengan beredarnya berbagai hoax dan berita palsu terkait vaksinasi.

“Tolong jumpai para orangtua yang ragu-ragu, beri pemahaman agar mereka mengerti, dengan demikian cakupan vaksinasi jadi maksimal. Selanjutnya, agar para siswa tenang, para wali kelas dapat mendampingi saat siswa mendapatkan suntikan vaksin,” imbuh Sekda.(anterokini)



Wali Kelas Kunci Sukses Cakupan Vaksinasi Siswa

TAPAKTUAN – Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh Taqwallah menegaskan, kesuksesan vaksinasi siswa yang akan berlangsung hingga tanggal 30 September mendatang, ditentukan oleh wali kelas dan pihak sekolah.

Hal tersebut disampaikan oleh Sekda Aceh, saat berkunjung ke SMA Negeri 1 Meukek, Aceh Selatan serta sejumlah SMA lainnya di wilayah barat dan selatan Aceh, untuk meninjau pelaksanaan vaksinasi siswa, Jum’at (17/9/2021).

“Bapak dan Ibu wali kelas adalah kunci sukses pelaksanaan vaksinasi siswa. Kami yakin, kedekatan wali kelas dengan para siswa akan berimbas positif terhadap kesuksesan pelaksanaan vaksinasi siswa ini,” ujar Sekda.

Sekda juga berpesan kepada para Kepala Sekolah agar segera menemui Kepala Puskesmas untuk berkoordinasi guna menentukan jadwal vaksinasi di sekolah masing-masing.

“Jangan buang-buang waktu, usahakan sehari selesai satu sekolah. Jemput bola, jangan menunggu karena waktu tidak banyak. Saat ini perhatian khusus Satgas Penanganan Covid-19 Aceh adalah para siswa, hingga 30 September mendatang. Oleh karena itu, sekali lagi kami sampaikan, bahwa kesuksesan cakupan vaksinasi siswa adalah keaktifan pihak sekolah, terutama para wali kelas,” kata Sekda.

“Tolong jumpai para orangtua yang ragu-ragu, beri pemahaman agar mereka mengerti, dengan demikian cakupan vaksinasi jadi maksimal. Selanjutnya, agar para siswa tenang, para wali kelas dapat mendampingi saat siswa mendapatkan suntikan vaksin,” imbuh Sekda.

Senada dengan Sekda Aceh, Kepala Dinas Pendidikan Aceh Alhudri, yang turut mendampingi Sekda menjelaskan, bahwa peran wali kelas sangat dibutuhkan. Selain itu, peran komite sekolah juga sangat penting untuk kesuksesan vaksinasi siswa.

“Kita semua di dunia pendidikan pasti saling merindukan, guru rindu mengajar siswanya rindu mendapatkan siraman ilmu dari guru secara langsung.

Selain itu para siswa juga rindu berinteraksi dengan teman-temannya. Namun hal ini akan sulit dilakukan jika vaksinasi siswa tidak berhasil. Oleh karena itu mari kita satukan tekad, dengan keseriusan kita bersama, Insya Allah upaya kita akan berhasil maksimal,” ujar Alhudri.

Hari ini, Sekda bersama Kadisdik Aceh, Kepala Biro Isra Setda Aceh Usamah El Madny, berkunjung ke SMAN 1 Meulaboh, SMA N 1 Kuala Nagan Raya, SMAN 1 Darul Makmur Nagan Raya, SMA N 1 Aceh Barat Daya dan SMA N 1 Meukek. Di setiap daerah yang disinggahi, Sekda Aceh turut didampingi oleh Sekda kabupaten/kota masing-masing.

Jelang Maghrib, Sekda dan rombongan sempat singgah ke rumah duka mantan Wali Kota Subulussalam, Almarhum Meurah Sakti, untuk bertakziah. 

Sekda Minta Vaksinasi Siswa Sekolah Selesai akhir September


Satgas Covid-19 Aceh Gelar Rakor Penanganan Pemulasaran Jenazah Covid-19

Banda Aceh – Satgas Covid-19 Aceh bersama stakeholder terkait menggelar rapat koordinasi guna membahas prosedur tata cara pemulasaran jenazah kematian akibat Covid-19. Jumat (17/9/2021).

Rapat yang berlangsung di ruang Potensi Daerah II Kantor Gubernur itu, dipimpin langsung oleh Asisten Bidang Pemerintahan dan Keistimewaan Aceh, M Jafar. Turut hadir Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUDZA) dr Isra Firmansyah, Wadir Penunjang RSUZA dr Nurnikmah, dan Sekretaris Dinas Sosial Devi Riansyah.

Kemudian tampak juga hadir Kepala Rumah Sakit Kesdam IM Tri Kurniyanto, Kasubdit Dokpol Biddokes Polda Aceh Suyoto, dan Dandem Keslap Kodam IM Bowo Suryo Utomo, serta para perwakilan Biro Isra, Biro Hukum, BPBA, Satpol PP, dan Dinas Kesehatan Aceh.

M Jafar mengungkapkan, saat ini, masih banyak ditemukannya penolakan terhadap penanganan jenazah pasien Covid-19 sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) protokol kesehatan yang telah ditetapkan, baik itu oleh pihak keluarga maupun masyarakat. Sehingga banyak jenazah yang meninggal akibat virus corona dilakukan pemulasaran atau proses pemakaman secara normal tanpa mempertimbangkan prokes.

Karena itu, Jafar menyebutkan, dibutuhkan langkah-langkah tata laksana secara spesifik untuk pemulasaran jenazah kematian akibat Covid-19, guna mencegah penyebaran kepada tenaga medis maupun tenaga pemulasaran jenazah serta keluarga dan masyarakat pada umumnya.

“Dalam penanganan Covid-19 terutama pemulasaran jenazah, kita (satgas) lebih mengedepankan keharmonisan bersama dalam kondisi kedaruratan dengan tetap mengacu SOP protokol kesehatan,” tegas M Jafar.

Menindak lanjuti hal itu, ia menyebutkan dibutuhkan sebuah tindakan tegas pemerintah terkait dasar standar prosedural dengan payung hukum resmi, untuk meminimalisir terjadi kesalahan pelaksanaannya di lapangan.

Berdasarkan hasil kesepakatan rapat tersebut, Jafar mengatakan, pemerintah akan merancang sebuah peraturan yang kemudian akan disepakati dengan Gubernur untuk menyikapi sejumlah permasalahan terkait penolakan penguburan jenazah kematian akibat Covid-19 secara prokes oleh keluarga ataupun masyarakat.

Langkah ini diambil lantara, masih seringnya di dapati penolakan jenazah Covid-19. Hal itu dikhawatirkan akan terus memperparah merebaknya virus corona di Aceh.

Sementara itu, Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUDZA) dr Isra Firmansyah, mengatakan pemulasaran jenazah kematian akibat Covid-19 di rumah sakit sudah dilaksanakan secara prokes, mulai dari dimandikan, dikafankan, hingga masuk peti. Kemudian barulah jenazah di serahkan kepada Satgas Covid -19 untuk dilanjutkan proses penguburan.

Hanya saja, kata Isra dalam proses penjemputan jenazah tersebut masih belum berjalan maksimal hingga saat ini, sehingga membuat SOP prokes terabaikan.

Rapat itu menerapkan protokol kesehatan ketat memakai masker dan menjaga jarak. 


Satgas Covid-19 Aceh Terus Pacu Vaksinasi

Back To Top